Dokter Humoris yang Tewas Terpanggang di Tol Gempol Itu akan Menikah Desember

Dokter Humoris yang Tewas Terpanggang di Tol Gempol Itu akan Menikah Desember

Dokter Humoris yang Tewas Terpanggang di Tol Gempol Itu akan Menikah Desember

Rencananya, pada 17 Desember, akan diselenggarakan pesta pernikahan Andreas.

Bambang Gunawan adalah pengusaha toko emas Sinar Mas di pasar lama Krian. Gunawan berasal dari Tuban, sedangkan Setiawati berasal dari Malang. Mereka menikah dan menetap di Krian.

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, Gunawan terserang penyakit stroke. Pria 60 tahun itu menjalani beberapa kali operasi. Hasilnya, sejak setahun terakhir, kondisi kesehatannya membaik. Meski demikian, kondisinya belum stabil dan masih perlu banyak istirahat. Karena itu, aktivitasnya terbatas. ”Sekarang lebih banyak di rumah,” ungkap Bambang Wiyanto, sepupu Gunawan, kemarin.

Setiawati sendiri adalah seorang dokter. Dia menamatkan pendidikan dan profesi dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Namun, ketika hendak ditempatkan di Madura, dia menolak. Perempuan 57 tahun itu memilih berbisnis bersama sang suami. Sebelum datang di resepsi pernikahan saudaranya pada Jumat lalu (2/9), dia menghadiri reuni SD yang diselenggarakan di Malang.

Tak menjadi dokter tidak pernah disesali Setiawati. Darah seorang dokter tetap menurun kepada anaknya. Bahkan, dua anaknya sama-sama menjadi dokter. Anaknya yang pertama, Daniel Setiawan, 27, sedang menempuh pendidikan dokter spesialis saraf di Universitas Hasanuddin, Makassar. Anak keduanya, Andreas Setiawan, 25, sedang melaksanakan praktik di Rumah Sakit Gatoel, Mojokerto. Rencananya, pada 2 Desember nanti, program internship dokter yang dijalani Andreas selesai.

Andreas yang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya juga merencanakan untuk mempersunting kekasihnya asal Bojonegoro. Pesta pernikahannya dijadwalkan pada 17 Desember mendatang. Persiapannya dilakukan sejak setahun lalu. Bahkan, semua kebutuhan sudah disiapkan. ”Suvenir, katering, dan gedung, semuanya sudah dibayar,” tutur pria 61 tahun itu.

Pemuda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu dikenal mudah bergaul dan humoris. Beberapa koleganya yang menunggui di Rumah Sakit Bhayangkara Porong mengaku sering dihibur oleh joke-joke dari Andreas.”Kita sering banget dihibur sampai ketawa-ketawa,” ungkap dr Bayu Perkasa, kolega Andreas di Rumah Sakit Gatoel.

Pihak keluarga mengakui bahwa keluarga Gunawan memang sering bepergian sampai larut malam. Tujuannya lebih sering untuk mengunjungi sanak saudara di luar kota. Kadang kalau terlalu malam, mereka mampir dahulu ke rumah saudara di wilayah Sidoarjo Kota. Keluarga menduga, Andreas mengantuk karena ter- jebak macet di Purwodadi. ”Sempat bilang kalau terjebak macet berjam-jam di Purwodadi,” tutur Wiyanto.

Jenazah ketiga korban disemayamkan di Rumah Duka Adi Jasa, Jalan Demak, Surabaya. Pihak keluarga masih menunggu anak pertama, Daniel Setiawan, datang dari Makassar.  (aji/jos/c6/pri) 

It's always a shame to cover up traditional features during a renovation – but the allure of fresh modern design is hard to pass up. This post looks at two attractive interiors that embrace the best of both worlds by preserving classic architectural details while decorating with stylish modern furniture and lighting features. The color themes and materials transcend eras for a totally integrated style that pays homage to the history of the buildings in which they reside. Both interiors are the result of collaboration between architects Slava Balbek & Artem Zavarzin.

Comment

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY